Definisi Toleransi antar umat beragama di Indonesia

Definisi Toleransi antar umat beragama di Indonesia – Akhir tahun, tepat di bulan desember 2017. Banyak hiruk pikuk yang terjadi pada tahun ini. apalagi di sosial media mengenai isu toleransi umat beragama, ke bhinekaan serta isu anti pancasila mewabah. Banyak Argument, pendapat dan debat ala sosmed yang terjadi, sehingga menurut saya alangkah baiknya pada postingan kali ini saya membahas hal tersebut.

Definisi Toleransi antar umat beragama di Indonesia

Definisi Toleransi antar umat beragama di Indonesia

Jika ada yang bertanya, kenapa saya menulis di Blog bukan di Facebook atau sosial media lainnya? Alasannya adalah jika saya menulis di Blog pribadi saya berarti ketika seseorang sudah berniat mengunjungi blog saya, Maka pembaca siap membaca tulisan saya sampai habis (tidak sepotong) dan berharap dapat mengerti dari isi yang saya bahas pada postingan ini.

Tulisan ini saya buat sangat berhati-hati agar tidak salah pendapat atau dapat menyudutkan orang lain. Dan Sekali lagi tulisan ini subjektif, jika ada koreksi, tanggapan silahkan dan untuk semua pembaca di blog ini, yuk silahkan dibaca dengan kepala yang dingin dan hati yang bersih  🙂

Saya memulai tulisan ini dari kata Toleransi, jika menyebutkan kata tersebut teringat dengan lawan katanya Intoleransi, dan di media sosial banyak yang membuat framming bahwa yang intoleransi adalah ISLAM. yuk kita bedah satu-satu.

Definisi Toleransi antar umat beragama ?

Apa sih Toleransi itu, menurut saya jawabannya sederhana dan singkat yaitu لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ  atau lakum dinukum waliyadin merupakan ayat terakhir pada surah al kafirun yang artinya untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.

Menurut saya, secara konsep manusia memiliki 2 hubungan yaitu :

a. Hubungan Manusia dengan Tuhannya

Pada point ini tidak ada ikatan apapun dengan manusia yang dapat memutuskan hubungan antara manusia dengan penciptanya. Misalkan Si A dan B berlainan agama, ketika si A ingin menjalankan perintah agamannya atau menjalankan apa yang di perintahkan kitab sucinya si B tidak dapat menghalangi, walaupun mereka sahabat baik. bahkan orang tuanya tidak dapat menghalanginya.

Contoh yang sangat baru adalah pada saat Pilkada DKI Jakarta : Isu Islam tidak toleransi di hembuskan, bahkan yang membuat saya miris adalah orang-orang yang ber-KTP kan Islam ikut mengecilkan Islam itu sendiri, dengan dasar logik atau kecerdasan yang mereka miliki.

Kenapa umat islam mengaungkan menolak pemimpin di luar Islam karena di Al quran ada perintahnya dan himbauan ini hanya di tujukan kepada Umat Islam atau Umat islam yang mau saja ikuti himbaun ini. Yang di luar agama islam ya pilih sesuai dengan kitab atau perintahnya. inilah lakum dinukum waliyadin

Jadi jangan dibawa isu tersebut menjadi deskriminasi, intoleransi, rasis dan lain-lain. itu pernyataan yang sangat ga masuk akal dan menyakiti hati. dan sampai saat ini alasan tersebut selalu dihembuskan, saya berdoa semoga mereka dapat hidayah.

Hal ini mengingatkan saya beberapa waktu yang lalu, ketika di medsos isu soal Fatwa MUI melarang seorang istri selfie di sosial media, kemudian beberapa saat setelahnya saya melihat share link berita tersebut dibagikan oleh salah satu teman FB saya, dengan tambahan post kira-kira seperti ini ” Kok hal seperti ini aja diatur-atur”, saya agak tersenyum sedikit membaca commentnya, kenapa? karena teman saya tersebut adalah seorang yang bukan beragama islam, dan dalam hati saya, saya menjawab ” Mas Bro ini fatwa MUI lho, tau ga MUI kepanjangannya? Majelis Ulama Indonesia, jika fatwa itu keluar, hal tersebut diperuntukan untuk umat islam aja, kok sampean yang sibuk” toh sampean mau pasang foto selfie istri sampean ya silahkan.

Tapi pernyataan tersebut, saya simpan dalam hati saja. dan saya membalas dengan postingan mengirimkan foto raisa ke dalam commentnya. dan teman saya bertanya, maksudnya apa? baru saya coba jelaskan secara logik. Mas, jika foto itu istri sampean, kemudian di share di sosmed kemudian ada teman atau laki-laki yang mengomentari foto itu, misalnya “Mba bibirnya sexy banget” atau dengan kata-kata yang lebih fulgar, anda marah ga? si teman menjawab, ya marah lah. nah itu salah satu fungsi fatwa MUI. dan saya tidak terlalu berharap dia mau menerima alasan saya tersebut. tetapi diluar dugaan dia menerima dan berterima kasih kepada saya.

b. Hubungan Manusia dengan Manusia (Mahluk ciptaan tuhan lainnya atau alam semesta)

Dalam hubungan ini manusia dapat bergaul atau bersahabat dengan siapapun dan agama apapun. dan saya pribadi bersahabat dengan teman yang berbeda agama, serta sebagai pengajar saya memiliki mahasiswa yang beraneka ragam agamanya, dan saya tetapi bergaul dengan meraka serta tidak membeda-bedakannya.

Pernyataan Kafir dan non muslim ?

Point ini yang menjadi sangat sensitif sekali, apalagi di dunia media sosial tentang pernyataan Kafir dan Non muslim. Oke saya bahas dulu tentang kafir yang saya ambil dari beberapa sumber.

Kafir merupakan kata yang berasal dari bahasa arab yaitu kufur atau ingkar, menolak, menutup, atau menyembunyikan sesuatu. kalau kata ustad abdul somad bahasa inggrisnya kufur yaitu cover. apa intinya orang yang di sebut kafir/kufur merupakan orang yang menolak kebenaran, menutup atau menyembunyikan sesuatu kebaikan.

Jelas jika orang yang lain selain Islam disebut dengan Kafir karena menolak bahwa “Tiada Tuhan Selain Allah Swt dan Nabi Muhammad SAW utusan Allah” dan selain itu kata kafir atau kufur dapat digunakan untuk orang Islam yang tidak bersyukur atau menolak nikmat dari Allah SWT.

Seperti kata bung Fahri Hamzah diacara ILC Tvone beberapa minggu yang lalu bahwa Kafir atau Kufur merupakan Terminologi yang ada pada agama Islam dan ada di dalam Al-quran. sama hal yang lain tentang penyembutan di agama yang lain tentang orang yang berbeda keyakinan dengan mereka dan itu terminologi dari masing-masing agama dan sah-sah saja menurut saya.

Sebagai contoh : Kata kafir ini sering disaksikan oleh penganut agama lain dari misalnya Habib rizieq ataupun ustad abdul somad dengan lantangnya. coba kita berpikir jernih dan menjawab pertanyaan ini, Kapan mereka menyebutkan kata kafir ini dan siapakah audiencenya apabila ada diruang publik?

Jawabannya adalah Habib Rizieq, ustad Abdul somad atau ustad-ustad lainnya mengucapkan hal tersebut di pengajian, atau taklim ataupun di tempat berkumpulnya orang-orang Islam.

Jika ada yang menyanggah : Saya nonton itu di Youtube, Facebook atau Instagram. Ya, dunia saat ini sudah berbeda dengan beberapa dekade yang lalu, semua informasi dapat kita raih hanya dengan modal kuota internet. tetapi permasalahnya pada dasarnya anda dapat memfilter diri anda sendiri.

Sebagai contoh dari kecil sampai saat ini saya suka menonton TV, salah satunya di hari minggu ada acara di TVRI atau di RCTI tentang pendeta yang berceramah dengan jemaatnya, So apa yang saya lakukan, secara spontan saya menganti Channel TV atau saya pergi keluar atau mematikan TV. kenapa hal tersebut saya lakukan karena saya tidak mengetahui pengetahuan atau terminologi di agama lain. Apakah saya tidak toleransi??

Dan yang menariknya saya membaca comment teman Facebook saya dengan pernyataan “Dengan alasan apapun, orang yang berbeda agama dari islam tidak suka disebut dengan Kafir” dan saya kemudian menanggapi Di Lingkungan mana, wilayah mana seorang muslim memanggil nama kafir kepada orang yang bukan Islam.

Misalnya saya lagi mau beli somay, kebetulan babangnya berbeda agama dengan saya, masa saya panggil bang kafir beli somaynya seporsi atau mahasiswa saya yang berbeda dengan saya, kemudian saya panggil Kafir coba isi jawaban tugas ini di papan tulis. sampai hari ini saya tidak pernah mendengar hal tersebut. dan itu lucu buat saya.

Dari beberapa teman FB saya tersebut, saya DM untuk menjelaskan hal tersebut dan beberapa yang menjawab saya ga mau berdebat tentang Agama. pertanyaan saya, saya kan ingin menjelaskan bukan berdebat dan misalnya saya ingin berdebat wajar, karena mereka meng-share tentang apa yang tidak mereka ketahui.

Atau jawaban yang lain ” Saya Tidak berpikir sampai sejauh itu ” Lah Gimana ini.

Saya lebih suka di Sebut Non Muslim :

Muslim itu berasal dari kata Islam yang artinya Damai. kita main lawan kata seperti yang kita pelajari di pelajaran bahasa Indonesia dulu :

Muslim = Damai

Non = Tidak

Non Muslim = Tidak Damai atau kata lain Umat Celaka.

What’s jika ada yang menyebut anda non muslim berarti anda sama saja disebut “hai orang celaka”. atau disebut kafir sama saja anda disebut dengan hai orang menutup atau yang menyembunyikan sesuatu. pertanyaan apakah kita senang disebut dengan kata halus tetapi memiliki arti kasar atau secara ucapan kasar tetapi memiliki arti yang lebih lembut.

Tidak mengucapkan selamat natal berarti anda Intoleransi?

Sekali lagi saya mengulang lagi definisi toleransi, yang pada umumnya sudah kita pelajari di sekolah yaitu di matakuliah PMP, PPKN atau nama yang sama. Toleransi adalah membiarkan orang lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing. saya rasa sampai definisi ini selesai masalah.

Pada setiap tanggal 25 Desember umat nasrani merayakan natal, dan isu ini mulai hangat sekitar 2 tahun sampai dengan 3 tahun kebelakang ini. apa yang menjadi perbincangan? adalah seruan ulama yang tersebar di media sosial ataupun youtube akan larangan mengucapkan selamat natal.

Dan ini menjadi isu yang sangat mudah dibakar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Ustad felix siauw : Natal merupakan perayaan atas kelahiran anak tuhan yang bernama Yesus Kristus (bahasa Yunani) atau Isa (bahasa arab ataupun Bahasa Abrani). dan hal tersebut diluar kepercayaan oleh umat islam sendiri, bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakan (surat Al-Ikhlas ayat 3)

Tapi Kan ga enak, ga ngucapin? kalau benar-benar teman kita tulus berteman dengan anda, mereka pasti tidak akan marah jika anda tidak mengucapkannya, itulah yang disebut toleransi. sama halnya mereka tidak menawarkan makanan mengandung babi ke kita. itu sama..clear ya

Saya ngucapkannya ga dari hati? menurut ustad felix siauw, anda munafik. orang yang berkata tidak sesuai ucapan dan hatinya itu disebut dengan Munafik.. clear ya

Jika ada rasa tidak enak, coba anda pikir kembali pada saat puasa bulan Ramadhan, apakah teman-teman anda yang berbeda ikut berpuasa, karena tidak enak dengan anda?

Ya berbedalah ngucapin sama melaksanakan puasa? Kalau kegiatannya memang berbeda, tetapi kalau runutan beban, lebih berat mengucapkan natal dari pada berpuasa itu sendiri.

Teman saya yang berbeda mengucapakan Idul fitri? pertanyaannya apakah di kitab mereka ada larangan untuk mengucapkan idul fitri? dan idul fitri merupakan perayaan kemenangan setelah berjuang 30 hari berpuasa, bukan merayakan kelahiran Tuhan.

Anda komentar teman saya di Facebook yang isinya ” inilah salah pengajaran toleransi beberapa dekade kebelakang ini baik di sekolah, kantor dan lain-lain” Saya saja (teman saya di FB) pernah menjadi paduan suara pada saat hari natal? Ngapain bro jadi paduan suara, ingin nunjukin toleransi tapi melanggar akidah (serem)

Jujur saya sangat senang dengan perkembangan Teknologi ini, banyak hal mengenai akidah yang saya dapat ketahui hanya dengan menonton Youtube ataupun sosial media. dan menjadi titik balik kembali bahwa saya harus banyak belajar.

Buat teman-teman ku, sahabat ku yang berbeda agama, sampai saat ini kita tetap akur dan tetap toleransi yaitu saling membiarkan diantara kita untuk menjalankan ibadah dan keyakinan masing-masing. tanpa harus kami mengikuti, tanpa kamu harus ikut-ikutan. tidak ada rasa ga enak. ga ada suara, ga ikut anda berarti tidak toleran.

Saya rasa clear hubungan antar teman yang berbeda agama, yang agak nyeleneh menurut saya hanya disosial media dan tidak di dunia nyata yang sebenarnya. dan kadang yang nyeleneh ya umat yang katanya muslim yang memiliki kecerdasan pengetahuan (sekolah tinggi, kerjaan ok) tetapi ga pernah denger pengajian walaupun di youtube dan selalu mengandalkan logika nya saja.

Akhir kata, untuk Toleransi saya hanya dapat menuliskan postingan ini. memulai menulis dengan hati-hati, 12 kali revisi sebelum di posting/publish dan hampir 2000 kata yang saya tulis. semoga tulisan yang memang strukturnya belum baik tetapi insha Allah isinya mengajak kebaikan.

Jika ada tulisan yang salah, melukai hati dan menyinggung perasaan. saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Bandar Lampung, 26 Desember 2017

 

Robby Yuli Endra

Robby Yuli Endra

Seorang Dosen Biasa, yang lagi belajar blog, nulis-nulis pengalaman sehari-hari sebagai dosen atau sisi lain atau pengalaman lain. berharap artikel yang sederhana bermanfaat untuk pembaca. siap menerima saran dan kritik untuk kemajuan blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer | Privacy policy | Term Of Service | Contact admin