Dosen Memiliki Youtube Channel dan Blog Pribadi, Kenapa tidak

Dosen Memiliki Youtube Channel dan Blog Pribadi – Hampir satu setengah tahun yang lalu, saya dihubungi via messanger facebook saya oleh seorang guru/teman sesama dosen di Universitas Bandar Lampung, yang berbeda program studi atau jurusan. setahu saya teman saya ini sedang melanjutkan studi di Jepang tepatnya kitakyusu university. awal chatnya beliau tentunya menanyakan kabar saya dan beberapa pertanyaan yang umum dan saya menjawab setiap pertanyaan dan juga melontarkan beberapa pertanyaan.

Komunikasi pun terasa hangat, kemudian masuk ke pertanyaan inti dari cit cat kami, sehingga obrolan tersebut menjadi tema saya dalam menulis artikel ini.

Komunikasi Tanpa batas di Era digital

Pertanyaan beliau “Beliau meminta saya atau konsultasi mengenai tahap tes Sertifikasi Dosen”

Sejenak saya berpikir, kenapa harus saya dan kenapa tiba-tiba ingin konsultasi serdos dengan saya.

Catatan sedikit : kurang lebih 2 dekade lalu agak sedikit lupa tahun pastinya. bahwa menurut aturan seorang dosen berhak di sertifikasi profesinya, bukan hanya guru tetapi dosen juga dan jika lulus akan mendapatkan tunjangan sesuai ketentuan. tentunya agar lulus sertifikasi banyak tahap dan ujian yang harus dilewati.

Tahap-tahap sertifikasi dosen yang pernah saya ikuti tersebut iseng-iseng saya tuliskan di blog pribadi saya ini. selain tujuannya buat iseng-iseng, tentunya menulis di blog dapat share kepada teman-teman dosen yang lain. hal tersebut yang bisa saya lakukan saat itu.

Pak haris, begitu beliau saya panggil secara tidak sengaja menemukan artikel yang saya tulis di blog. dengan bantuan mesin pencari google, beliau mencari artikel yang terkait dengan serdos, karena secara administratif beliau mendapat panggilan serdos oleh kemeristek dikti saat itu. dan mendapatkan tulisan yang sudah lama saya posting tersebut.

Beliau bercerita ke saya, awalnya beliau tidak mengetahui blog tersebut adalah milik saya. dan sedang asiknya membaca baris per baris, beliau melihat foto saya yang sengaja saya sisipkan dibagian bawah blog ini. dan kontan beliau mencari nama saya di facebook dan men-chat saya dengan menyapa saya admin jejakdosen. 

Baca Juga Artikel menarik lainnya :  Tentang pembayaran atau payment google adsense

Cerita yang lain, waktunya hampir seminggu yang lalu. ketika saya hendak rapat di gedung rektorat masih dikampus. dalam perjalanan saya berpapasan dengan seorang teman, tentunya dosen juga. beliau kemudian memanggil saya dan berkata : Sudah saya Subscribe, Like dan Share ya..

Saya sedikit bingung, Bapak yang satu ini merupakan lulusan S3 juga dari Jepang sama seperti pak haris yang saya ceritakan dibagaian awal tulisan ini. Bapak tersebut sering dipanggil pak IB, Beliau kemudian dengan lantang dengan muka serius dan senyuman ciri khas beliau berkata kepada saya, sudah saya Subscribe, Like dan Share ya..saya rada bingung apa maksud beliau? tanpa bag big bug beliau langsung menyapa dengan kata-kata tersebut.

Masih rada bingung dengan maksud kata-kata beliau dan tentunya pikiran saya langsung menuju ke sebuah channel Youtube yang saya kelola.

Kurang Lebih dari 6 bulan ini saya memulai mengisi content-content video di Youtube Channel pribadi saya : Robby Yuli Endra. tetapi jujur saya bukan termasuk orang yang pede untuk mempromosikan channel saya ke sosial media atau media-media yang lainnya.Saya hanya menyisipkan link alamat channel saya di profil wa dan juga IG. Kemudian kita balik lagi ke pernyataan beliau.

Sontak saya bertanya, maksudnya apa pak? dan beliau menjelaskan iya beberapa waktu yang lalu saya mencari di Youtube tentang Bagaimana cara membuat buku ajar dan referensi, dan beliau mendapati channel saya yang teratas yang ditampilkan Youtube sesuai dengan keyword yang beliau ketik.

Dan memang benar saya pernah meng-upload video tersebut,saya berpikir beliau hanya “ngenyek” atau mengejek channel saya. rupanya tidak, beliau memang tidak sengaja mendapati channel saya. kebayang ekpresinya ketika lagi cari sesuatu, kemudian tampil muka saya yang beliau kenal. hehe

Baca Juga Artikel menarik lainnya :  Tips pada saat tidak ada ide membuat postingan artikel blog

Kemudian saya menjawab : Masa iyah pak (masih kurang yakin) dan setelah yakin saya berkata kepada beliau saya sangat tersanjung channel saya dikunjungi beliau. dan kemudian kami pergi ke arah yang berbeda

Dari pengalaman tersebut dan tentunya masih banyak cerita yang lain, sebagai seorang Dosen menurut saya perlu memiliki media digital untuk mentransformasi pengetahuan baik memiliki Youtube Channel ataupun blog pribadi. saya menyadari content youtube channel saya masih memiliki banyak kekurangan dari segi teknis ataupun teknis. apalagi dengan blog yang tulisannya tidak sebagus seorang blogger atau seorang copy writing. tetapi tidak salah untuk mencoba.

Youtube Channel dan Blog tempat sharing knowledge tanpa batas

Dengan memiliki Youtube Channel saya merasakan memiliki Stasiun TV sendiri, tanpa harus mendaftar untuk menjadi narasumber. dan content yang saya buat bebas tanpa harus di atur oleh pihak lain. tentunya saya membuat content-content yang positif.

Memiliki Youtube channel seperti memiliki stasiun TV sendiri

Selain itu memiliki Blog saya merasa memiliki Media Online sendiri dan saya sebagai narasumber, Editor serta Pemred (Pimpinan Redaksi) sendiri. saya jadi teringat pengalaman saya ketika ingin belajar menulis oleh seorang teman, masih di kampus yang sama tetapi tahun yang masih sangat jauh kebelakang kisaran tahun 2008 atau 2009. 

Punya Blog serasa memiliki Media Online sendiri

Teman saya tersebut memiliki latar belakang keilmuan komunikasi dan rajin menulis di koran-koran lokal seperti lampung post ataupun radar lampung. ataupun koran-koran yang skalanya nasional seperti kompas. dan saya sering membaca artikel-artikel beliau disurat kabar. 

Singkat cerita, saya bertanya kepada beliau bagaimana caranya tulisan kita dapat di publish di media surat kabar. dan beliau menjawab Gampang kok, cukup mengirimkan artikel dengan ketentuan yang disesuaikan dengan pedoman redaksi dan sebaiknya tulisan sesuai dengan keilmuan kita. dan beliau melanjutkan penjelasannya : jikalau tulisan kita dimuat disurat kabar tersebut kita akan dibayar dengan nominal bervariasi 75 ribu sampai dengan 125 ribu per-artikel.

Menulis Tidak Gampang, harus banyak membaca dan belajar

Dengan mendengar dapat duit, dalam hati saya lumayan juga (ditahun tersebut) dan akhirnya saya bersemangat untuk menulis beberapa artikel dan kemudian saya kirim ke email redaksi. satu..dua artikel saya kirim dan seperti artikel saya tak layak untuk di publish (tentunya ada pertimbangan dari redaksi)

Baca Juga Artikel menarik lainnya :  Cara membuat subtitle pada Video di Youtube Channel

Dan setahun kedepan barulah saya mengenal Blog dan mempelajari seluk beluk mengenai blog. dengan mencari tahu dengan teman bahkan sampai dengan mahasiswa dan juga mencari referensi di internet. akhirnya saya memiliki media online sendiri seperti blog.

Ketika sudah memiliki blog, content yang di publish tidak setinggi sesuai semangat saya diawal. blog seperti tanaman yang harus selalu di sirami, diberi pupuk dan dirawat agar bunga atau buahnya tumbuh dengan mempesona.

Dan beberapa tahun belakangan ini, saya mulai menghidupkan kembali kebun (blog) saya ini..salah satu motivasi menulis saya berasal dari kedua teman yang saya ceritakan diatas.

Di Era Digital, Memiliki Youtube Channel dan Blog merupakan keharusan untuk berbagi pengetahuan apapun..karena dengan digital ini kita dapat mengirim pengetahuan tidak hanya di depan kelas saja..tetapi pesan tersebut dapat dikirim ke penjuru dunia…

Di Era Digital, Memiliki Youtube Channel dan Blog merupakan keharusan

Robby Yuli Endra

Seorang Dosen Biasa, yang lagi belajar blog, nulis-nulis pengalaman sehari-hari sebagai dosen atau sisi lain atau pengalaman lain. berharap artikel yang sederhana bermanfaat untuk pembaca. siap menerima saran dan kritik untuk kemajuan blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.