Sejarah dan asal kata Hoax dari seorang ilmuwan Fisika

Sejarah dan asal kata Hoax dari seorang ilmuwan Fisika – Menarik saat menonton Indonesia Lawyer Club (ILC) tadi malam 26 maret 2019 yang bertemakan Pelaku Hoax akan di ancam dengan undang-undang terorisme. pada tulisan opini kali ini saya tidak akan membahas bagaimana penerapan undang-undang terorisme kepada pelaku hoax, tetapi yang saya ingin tulis adalah tentang diakhir acara ada perdebatan yang menarik antara Prof. Rhenal kasali dengan Rocky Gerung.

Sejarah dan asal kata Hoax dari seorang ilmuwan
Prof. Alan Sokal

Sejarah dan asal kata Hoax dari seorang ilmuwan Fisika

Prof Rocky gerung menjelaskan kepada Prof Rhenal tentang sejarah hoax, pada kesempatan yang sama beliau menjelaskan dan menyebutkan beberapa kali nama alan sokal. dan beliau menceritakan bahwa asal muasal alias sejarah kata hoax itu sendiri. inget Prof Rocky gerung menjelaskan sejarah bukan etimologi yang di tanggapi oleh Prof Rhenal kasali.

Sejarah kata Hoax

Tahu kah anda saat ini kata hoax merupakan kata yang negatif yang dibenarkan banyak orang. Sejarah mencatat pada hoax sendiri dimulai dari sisi akademis. yah, ada seorang yang bernama Prof. alan Sokal beliau adalah seorang Profesor fisika di New York University dan profesor matematika di University College London dan beliau di juluki Sokal Hoax.

Kenapa Seorang Prof. Alan Sokal dapat dijuluki Sokal Hoax. awal mula sokal memasukan paper atau tulisan ke Jurnal Sosial Text. pada edisi ke 46/47 Sping summer tahun 1996. Sosial Text merupakan jurnal yang sangat terkenal di Amerika Serikat. (Untuk kalangan Akademisi, Dosen, mahasiswa dan Peneliti tentunya tidak asing lagi dengan yang namanya jurnal)

Pada paper yang dipublikasikan di jurnal sosial text yang berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity” Sokal membuat dua keyword yang sangat penting yaitu yakni “hermeneutika” dalam kajian budaya dan “gravitasi kuantum” dalam sains.

Baca Juga Artikel menarik lainnya :  Pengalaman Jadi juri Lomba kompetensi siswa SMK Bandar Lampung

Secara singkat tulisan alan sokal tersebut sangat bagus dalam beberapa konteks. Prof Alan Sokal banyak mengutip pemikir posmodern cum pos-strukturalis seperti Jacques Derrida, Jean-Francois Lyotard, Luce Irigaray, Gilles Deleuze, Felix Guattari, dan Jacques Lacan. serta dengan sangat baiknya dalam jurnal tersebut memadukan citasi pemikir tersebut dengan temuan-temuan terbaru para fisikawan seperti Heisenberg, Einstein dan Niels Bohr.

Sokal menyangkal tulisan yang sudah di publikasikan nya beberapa minggu kemudian, pada 15 April 1996, dalam tulisan yang berjudul “Physicist Experiments with Cultural Studies” yang terbit di jurnal Lingua Franca, Alan Sokal menjelaskan bahwa tulisannya yang dipublikasika pada jurnal Social Text hanyalah humor atau parodi untuk mengejek para pemikir pos-modern. Dengan kata lain, paper itu adalah hoax. dan dari hal tersebut Hoax mulai diperdebatkan.

Klarifikasi Alan Sokal mengenai paper yang hoax tersebut adalah Beliau sengaja menulis tulisan dipaper tersebut secara asal-asalan untuk menguji atau mengetes standar intelektual akademisi humaniora Amerika Serikat. Bahkan beliau mengajukan Rumusan masalah yang dapat dibilang cukup sederhana. Sokal merumuskannya hal tersebut sebagai berikut “Akankah jurnal kajian budaya ternama di Amerika mempublikasikan sebuah artikel yang penuh omong kosong atau tanpa data yang valid jika (1) terkesan bagus dan (2) sejalan dengan pra-konsepsi ideologi para editor jurnal?”.

Dari paper yang diterbitkan akhirnya pertanyaan nya pun terjawab. Paper hoaxnya itu diterima dan dipublikasikan oleh Social Text Amerika Serikat yang didirikan oleh tiga akademisi atau intelektual yaitu John Brenkman, Stanley Aronowitz, dan Fredric Jameson.

Menurut nya , hasil eksperimennya dari diterimannya paper penelitiannya pun berhasil menerangkan bahwa ternyata beberapa sektor akademik Amerika Serikat telah lembam secara intelektual. Hal itu dapat terjadi karena editor pada jurnal Social Text menyukai artikelnya hanya karena ia memiliki kesimpulan pada penelitian tersebut yang sesuai dengan pedoman dan ideologi para editor tersebut, yakni konten dan metodologi sains posmodern menyediakan dukungan intelektual yang kuat untuk proyek politik progresif.

Baca Juga Artikel menarik lainnya :  Catatan Tentang pendidikan di hari pendidikan nasional tahun ini

Prof alan sokal beralasan Mereka (para editor) terkesan tidak perlu untuk menganalisis kualitas pembuktian, keterkaitan argumen, dan bahkan relevansi argumen untuk suatu simpulan tertentu. Alasan beliau melakukannya adalah Saya mengkhawatirkan penyebaran, bukan hanya omong kosong dan pemikiran yang ceroboh, tapi juga jenis pemikiran omong kosong dan ceroboh yang menyangkal adanya realitas obyektif. (Sumber : https://tirto.id/belajar-hoax-dari-prof-alan-sokal-cvRZ)

Dan dapat disimpulkan bahwa hoax pertama kali dimaksudkan bukan untuk hal negatif tetapi untuk menguji benar atau tidaknya sebuah tulisan yang walaupun isinya banyak bohong tetapi kesimpulannya sesuai dengan editor apakah dapat diterima atau enggak, jawabannya dapat diterima.

Jadi Hoax tidak melulu Negatif, tetapi dapat menjadi sebuah tool untuk menguji suatu kebenaran. dan sebetulnya penjelasan Rocky Gerung pada acara ILC malam itu sangat benar.

Demikianlah artikel singkat Sejarah dan asal kata Hoax dari seorang ilmuwan fisika semoga bermanfaat untuk para pembaca.

Robby Yuli Endra

Seorang Dosen Biasa, yang lagi belajar blog, nulis-nulis pengalaman sehari-hari sebagai dosen atau sisi lain atau pengalaman lain. berharap artikel yang sederhana bermanfaat untuk pembaca. siap menerima saran dan kritik untuk kemajuan blog ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.